Rabu, 11 Mei 2011

Gaya Bahasa

Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan pilihan kata tertentu. Dengan cara itu, kesan dan efek yang ditimbulkan dapat dicapai semaksimal mungkin.

1. Retoris
adalah Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

Adapun jenis-jenis dari gaya bahasa retoris yaitu, sebagai berikut :
a. Aliterasi adalah pengulangan bunyi konsonan pada awal kata secara berurutan.

Contoh : (aliterasi s)
gadis manis, sekarang iseng sendiri
(puisi “CINTAKU JAUH DI PULAU” karya Chairil Anwar)

b. Asonansi adalah Pengulangan bunyi vokal pada sebuah baris yang sama.

Contoh : (asonansi a)
Nah, ternyata ucapan suka lain dengan tindakan.
(puisi “NAH” karya Eddy D. Iskandar – Horison, Th. IX, Juni 1976 :185)

c. Anastrof atau inverse adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.

Contoh :
dikenal gadis-gadis dari bukit
p s ket.
(puisi “Tanah Kelahiran “karya Ramadan K.H)

Berdiri aku di senja senyap
p s ket.
(puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah)

d. Apofasis adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru menegaskannya.

Contoh :

Mejaku hendak dihiasi,
Kembang jauh dari gunung
Kau petik sekarangan kembang
Jauh jalan panas hari
Bunga layu setengah jalan
(puisi “Kembang Setengah Jalan” karya Armin Pane)

e. Asindenton adalah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung.

Contoh :
Diantara kabut
wangi musim kopi
dan selimut
dingin gerimis pagi
dan gemetar matahari
di manakah wajahmu
(puisi “Bukit Tinggi” karya Hartojo Andangdjaja)

f. Polisindenton adalah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung.

Contoh :
Kita tidur di bumi
Bangun di akhirat
Kelak kita dilempar di dua pintu
Neraka atau surga
(puisi “Dua Pintu Kita” karya Utomo .S.)

g. Kiamus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.

Contoh :
Kalau kumati dia mati iseng sendiri
(puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar)

h. Elipsis adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.

Contoh :
Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang
(puisi “Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang)

i. Eufimisme adalah gaya bahasa penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.

Contoh :
Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir : ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
(puisi “Mata Pisau” karya Sapardi Djoko Damono)

j. Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.

Contoh :
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
(puisi “Aku” karya Chairil Anwar)

k. Pleonasme adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului, atau penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu.

Contoh :
Di kolam yang kotor
Tersimpan air kotor sisa sampah
(puisi “Kolam II” karya Utomo.S.)

l. Tautologi adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.

Contoh :
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya
(puisi “Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang)

m. Perifrasis adalah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.

Contoh :
Tidak tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau diranjang,
(puisi “Catetan th.1946” karya Chairil Anwar)

n. Prolepsis atau Antisipasi adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.

Contoh :
Aku menanti gagak jadi putih kuda
Bertanduk minta telor pada kerbau
Kami sama berjalan di tengah hari
(puisi “Mengurung Burung” karya Rusli Marzuki Saria)


o. Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana.

Contoh :
Akankah esok kita jumpa lagi Ramadhan?
(puisi “Ramadhan” karya Utomo.S.)

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita kasihku?
Dengan senja samara spoi pada masa purnama meningkat naik.
(puisi karya A. Hamzah)

p. Koreksio atau Epanortosis adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.

Contoh :
Hatiku haus ‘kan kebenaran
Berikan jawab di hatiku sekarang
(puisi “Kucari Jawab” karya JE Tatengkeng)

q. Hiperbola adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.

Contoh :
Darah kami panas selama
Badan kami tertimpa baja
Jiwa kami gagah perkasa
Kami akan mewarna di angkasa
Kami pembawa ke Bahgia Nyata
(puisi “Siap Sedia Kepada Angkatanku” karya Chairil Anwar)

r. Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.

Contoh :
Matahari
Sampai kapan apimu meredup
Gaib bersama bumi
(puisi “Matahari” karya Utomo.S.)


2. Kiasan

Adapun jenis-jenis dari gaya bahasa kiasan yaitu, sebagai berikut :
a. Persamaan/simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding.
Contoh :
Hatinya pun berurusan cinta kasih
Seperti jendela terbuka bagi angina sejuk.
(puisi tentang kemanusiaan karya W.S. Rendra)

b. Metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama.
Contoh :
Kesabaran adalah bumi
Kesadaran adalah matahari
Keberanian menjelma kata-kata
Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata
(sebuah bait dalam puisi Rendra)

c. Alegori adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam.
Contoh :
Musim datang lagi
Pengalaman menyilih lagi
Angin datang lagi intuisiku
Terbang lagi
(puisi “Mengurung Burung” karya Rusli Marzuki Saria)

d. Personifikasi adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup.

Contoh :
Akhirnya peluit pun dibunyikan
Buat penghabisan kali kugenggm jarimu
Lewat celah kaca jendela
Lalu perlahan-lahan jarak antara kita
Mengembang jua
Dan tinggallah rel-rel, peron dan lampu
Yang menggigil di angin senja
(puisi “Perpisahan” karya Elha)

e. Alusi adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa.
Contoh :
Kawan, kawan
Menepis segar angina terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Memencar pencar ke penjuru segala
Riang menggelombang sawah dan hutan
(puisi “Siap Sedia” karya Chairil Anwar)

f. Eponim adalah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai sebagai tempat atau pranata.
Contoh :

Dan di teras tinggi sore hari
Di rumputan Taman Wirasakti
Kutahu
Lembut dadamu
(puisi “Bukittinggi” karya Hartojo Andangdjaja)

g. Epitet adalah gaya bahasa yang berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau ciri yang khas dari seseorang atau suatu hal.

Contoh :
Seruling di pasir tipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki
Burangrang – Tangkubanprahu
(puisi “Tanah Kelahiran” karya Ramadan K.H)

h. Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.

Contoh :
Dan pelor pembayar pajak
Negeri ini
Ditembuskan ke punggung
Anak-anaknya sendiri (puisi “Jalan Segara” karya Taufiq Ismail)

i. Metonimia adalah gaya bahasa yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.
Contoh :
Diatas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
(puisi “Perempuan Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya)

j. Antonomasia adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri.
Contoh :
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas ALLAH
Dulu pernah kuminta Tuhan
(puisi “Walau” karya Sutardji Calzoum Bachri)

k. Ironi adalah gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus.
Contoh :
Dengan sabar dan tabah
Sampai hujan turun membasahi bumi
(puisi “Nanti, Nantikanlah!” karya Waluyati)

l. Satire adalah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan maupun terselubung.
Contoh :
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta
(Bait II puisi “Menyesal” karya M. Ali Hasymi)

m. Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Contoh :
Aku melihat mukanya bagai boneka
Rambutnya yang harum semerbak bunga
Matanya bintang yang bersinar
Kulitmu yang putih
(puisi “Bidadariku kado ulang tahun adikku, Aulia Murti” karya utomo soconingrat)

n. Paranemasia adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh :
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
(puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar)

o. Hipalase adalah gaya bahasa yang berupa sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk menerangkan suatu kata yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.

Contoh :
Rumput kering kemuning
Terhampas luas.
(puisi “Nanti, Nantikanlah!” karya Waluyati)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar